English learns Indonesian

Your Partner in Learning Bahasa Indonesia

Pelibatan Keluarga: Solusi atas Anomali Teknologi dalam Pendidikan

Keluarga merupakan satuan terkecil dalam masyarakat yang dapat diibaratkan seperti sebuah negara dengan fungsi legislatif, eksekutif, serta yudikatif yang dipegang oleh orangtua dan anak sebagai rakyat yang bebas dalam sekat hukum dan aturan. Seperti halnya hukum dan aturan dalam negara demokratis, seperangkat aturan yang ditetapkan dalam keluarga bertujuan untuk kebaikan rakyat. Dalam keluarga, prinsip “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” akan menjadi “dari anak, oleh anak, dan untuk anak”. Dalam hal ini, anak akan menjadi prioritas dalam segala hal.

Dari sekian banyak aspek yang diprioritaskan oleh para orangtua kepada anak-anak mereka, pendidikan adalah satu yang selalu menarik untuk diulas. Demikian halnya karena pendidikan dianggap sebagai hal yang vital bagi kebanyakan orangtua. Pendidikan adalah jaminan masa depan anak-anak mereka. Pendidikan juga adalah penyelamat para orangtua ketika mereka renta nanti. Pendidikan adalah tonggak pembangunan bangsa. Pendidikan adalah penyelamat dunia dan akhirat. Pendidikan adalah ranah yang tak pernah kehabisan topik untuk dibahas.

Tak sulit untuk menemukan bukti terkait rangkaian pernyataan penulis diatas. Dimanapun didunia ini, para orangtua akan lebih memilih untuk mengesampingkan ego mereka demi pendidikan anak-anak mereka. Beberapa orang bahkan telah mempersiapkan pendidikan calon anak mereka jauh hari sebelum mereka benar-benar menyandang status orangtua. Sejak berabad-abad silam, orangtua bekeja keras siang dan malam, menabung, rela menjual aset berupa tanah, ternak serta kendaraan, bahkan mereka rela berhutang hanya untuk menjamin pendidikan anak mereka. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 30 Tahun 2017 menekankan wajibnya pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan.

Teknologi dalam Pendidikan: Pisau Bermata Dua

Penulis – satu dari sekian banyak orang yang memandang penting pendidikan adalah penyandang status mahasiswa yang saat ini sedang berjuang keras menyelesaikan kewajiban menulis disertasi. Dua penelitian penulis sebelumnya – yakni skripsi dan tesis – yang mengangkat tema pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran mengerucut pada hasil positif dimana teknologi berperan sebagai pemberi asistensi kepada mahaiswa dalam belajar baik didalam dan diluar kelas. Disertasi penulis masih akan berada pada payung yang sama – yakni pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran.

Bukan tanpa alasan penulis betah mengkaji tema tersebut. Sejak zaman dahulu hingga zaman digital seperti sekarang ini, teknologi tak pernah bisa dipisahkan dari pendidikan. Ia selalu setia – dan selalu sukses – mengiringi praktek-praktek pendidikan. Semua sepakat bahwa sinergi keduanya telah berhasil membangun peradaban dunia. Meskipun demikian, dibalik segala efek positif yang dijanjikannya, anomali kerap kali terjadi dalam prakteknya. Dibalik semua penyebab anomali yang penulis mampu pikirkan, peran orangtualah yang merupakan faktor kuncinya. Penulis percaya bahwa jika pengawasan orangtua dapat dimaksimalkan, maka akan maksimal pula efek positif dari teknologi terhadap pendidikan anak.

Teknologi ibarat sebuah pisau bermata dua. Tepat sewindu silam, hal ini telah secara eksplisit disampaikan oleh Dr. Seto Mulyadi, M.Si. atau yang akrab disapa Kak Seto. Sebenarnya, pernyataan beliau terkhusus pada penggunaan media sosial. Namun, seiring perkembangan zaman, penulis melihat rembesan pernyataan tersebut pada berbagai sektor – termasuk sektor pendidikan.


Berikut ini penulis sajikan ramuan yang mudah-mudahan dapat menjadi solusi atas anomali terkait faktor pengawasan orangtua yang relevan dengan zaman kekinian.

#1 Teknologi Hanyalah Sebatas Media Belajar

Telah banyak jurnal ilmiah tentang asistensi teknologi dalam pembelajaran yang diterbitkan oleh penerbit bereputasi – mulai dari indeks Copernicus, Thomson Reuters, hingga Scopus. Satu poin yang dapat penulis simpulkan, mayoritas peneliti menggaris-bawahi penggunaan teknologi hanya sebatas media belajar saja. Teknologi dapat menggantikan peran guru sebagai pengajar namun tidak dapat menggantikan peran guru sebagai pendidik sebab cakupan pendidikan tidak hanya sebatas memberi pengajaran semata – melainkan juga memberi pendidikan yang bentangan sayapnya meliputi hal-hal yang tidak memungkinkan untuk diajarkan seperti pendidikan karakter dan moral.

Kita hidup dizaman dimana manusia terikat – dan sulit terpisahkan – dengan gawai dan perangkat elektronik penunjang kehidupan lainnya. Kebergantungan kita terhadap teknologi seyogianya tidak membuat kita sebagai orangtua menjadi lupa akan tanggung jawab kita sebagai pendidik. Orangtua adalah sosok yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Oleh karena itu, penting bagi seluruh orangtua agar lebih menyadari perhatian mereka terhadap penggunaan gawai anak-anak mereka. Pertama-tama, tanamkan bahwa teknologi hanyalah sebatas media untuk belajar.

Berdasarkan pengamatan penulis, banyak anak yang terbuai dalam pola berpikir instan dalam belajar setelah mengenal teknologi. Beberapa anak usia sekolah dasar yang pernah penulis jumpai memilih untuk mengandalkan kalkulator pada gawai ketimbang mengolah penjumlahan serta perkalian sederhana dalam otak mereka. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah. Namun tanpa disadari, kebiasaan ini berarti menanamkan dan memupuk keengganan dalam membiasakan otak untuk berpikir kritis. Akibatnya, sel-sel neuron dalam otak akan kurang terkoneksi satu sama lain. Padahal, usia anak merupakan usia emas yang menentukan kadar kecerdasan mereka kelak karena pada usia inilah kebiasaan ditanam. Oleh karena itu, hendaknya para orangtua dapat menanamkan pemikiran-pemikiran positif dengan tidak memberi contoh kepada anak tentang ketergantungan terhadap teknologi.

#2 Jalin Hubungan Emosional yang Intensif

Adalah sebuah kewajaran bagi orangtua zaman digital jika anak mereka bebas menggunakan gawai. Gawai seringkali dianggap sebagai solusi atas tingkah dan laku anak yang dianggap meresahkan orangtua. Ketika anak menangis, gawai dianggap sebagai jalan pintas agar segera berhenti menangis. Ketika anak banyak tingkah, gawai dijadikan sebagai penarik perhatian agar anak duduk tenang dan tidak mengganggu. Padahal, adakalanya anak dengan sengaja bertingkah untuk menarik perhatian orangtua yang selalu terikat pada gawai. Seperti itulah cara anak-anak memprotes dan mencari perhatian.

Posisi orangtua memang serba salah. Disatu sisi, orangtua sibuk bekerja untuk anak-anak. Disisi lain, mereka harus mencurahkan perhatian mereka kepada anak mereka. Kebanyakan kasus mental zaman kekinian berkisar pada kurangnya waktu orangtua untuk berinteraksi langsung dengan anak-anak mereka karena kesibukan pekerjaan. Orangtua bukannya tidak paham akan hal itu. Namun kesibukan kerap kali membuai mereka hingga orangtua lupa tanggung jawab memberi pendidikan karakter dan mental kepada anak-anak mereka.

Hubungan emosional dapat dibangun dengan 2 cara: interaksi verbal dan non-verbal. Interaksi verbal dapat dilangsungkan dengan melibatkan anak dalam komunikasi langsung guna memberi stimulasi pada otak anak. Praktek ini diklaim dapat merangsang kecerdasan linguistik dan kemampuan berpikir kritis anak – demikian kata pendiri sekolah otak di Jepang, Toshinori Kato, Ph.D. Interaksi non-verbal dapat dilakukan dengan kontak fisik, senyuman, dan isyarat gerak tubuh yang meskipun terlihat sederhana, namun membawa dampak positif yang tak terjelaskan dengan kata-kata. Berikut kiat-kiat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Sahabat Keluarga dalam membangun sikap hidup positif pada anak.

#3 Komunikasi Intensif dengan Pendidik

Komunikasi merupakan kunci dari segala metode penyelesaian masalah. Mungkin itu sebabnya ia memiliki beragam nama seperti perundingan, diplomasi, dialog, dan musyawarah. Selain menjalin komunikasi dengan anak, orangtua juga perlu menjalin komunikasi yang intens dengan pendidik – yang dalam hal ini diwakili oleh walikelas anak di sekolah. Poin penting ini telah diisyaratkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui layanan bertajuk “Sahabat Keluarga” dalam artikel berjudul Pentingnya Membangun Komunikasi Efektif Orangtua-Sekolah yang menyajikan tips untuk para orangtua Indonesia.

Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Sahabat Keluarga juga memberikan tips untuk membangun hubungan saling menguntungkan antara orangtua dengan pihak sekolah melalui artikel yang berjudul Tiga R untuk Kemitraan Sekolah dengan Orangtua.

Hal ini mengisyaratkan bahwa meskipun pendidikan anak kita dijamin oleh pihak sekolah, keterlibatan orangtua tetap menjadi faktor nomor wahid yang menentukan berhasil tidaknya upaya-upaya pendidikan yang diterapkan. Penulis meyakini bahwa seistimewa apapun jaminan pendidikan yang ditawarkan sekolah, peran orangtua diluar sekolahlah yang menentukan kualitas pendidikan anak. Demikian halnya karena lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling akrab dengan anak.

Dengan menjalin komunikasi yang intens dengan pihak sekolah – yang dalam hal ini diwakili oleh walikelas – orangtua dapat memantau perkembangan anak mereka untuk kemudian ditindak-lanjuti dengan perlakuan lanjutan diluar sekolah. Semisal, jika prestasi anak tiba-tiba menurun, maka penggunaan gawai untuk bermain gim dan media sosial dapat diperketat lagi. Jika terindikasi masalah ini, Anda sebagai orangtua dapat memanfaatkan tips yang penulis pertama kali dapatkan secara eksklusif dari laman Sahabat Keluarga milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan judul Aplikasi Pelacak Kelayakan Media Sosial dan Gim Anak.


Beruntunglah kita para orangtua Indonesia yang masih dinaungi dan diasistensi pemerintah dalam urusan pendidikan. Terima kasih terkhusus kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas ketegasannya dalam menekankan pentingnya pelibatan keluarga dalam pendidikan sebagai manifestasi pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 30 Tahun 2017 yang disalurkan melalui layanan bertajuk “Sahabat Keluarga”. #sahabatkeluarga

Gelisah Menghadapi Ujian

What's up, Englinesians? Are you doing good today? In this resource, I present a simple short story for you who want to learn bahasa Indonesia (Indonesian). The short story consists of 448 words and is aimed at beginner level. The short story contains some simple questions to test your comprehension.

Read more

Bermain Hujan

What's up, Englinesians? Are you doing good? I hope so. In this resource, I provide a passage which is a short story for you to 'self-guided' learn. Literally, the title of this passage means "playing under the rain. Indonesia has only two seasons, the rains and summer. The former is the one you will read.

Read more

Hobi dan Cita-cita

Howdy, Englinesians?! In this resource, you will be reading a passage entitled "hobi dan cita-cita" which literally means hobbies and ambition.

Read more

Belajar Bahasa Indonesia Secara Mandiri

In this resource, you will be reading a passage entitled "Belajar Bahasa Indonesia Secara Mandiri" that literally means "Learn Indonesian Autonomously". This passage is especially created for upper-advanced level because I put some low-frequency vocabulary on it. Let's enjoy the passage!

Read more

Kecanduan Permainan Daring

In this resource, we well learn Indonesian through a passage entitled "addicted to online game". This passage is for intermediate level learners. I hope you can benefit from this passage - enhance your Indonesian vocabulary and acquire Indonesian grammar. Let's get it started!


Memainkan permainan daring adalah hobi banyak orang saat ini. Di zaman dimana gawai tidak lagi menjadi barang mewah memungkinkan kita semua untuk memilikinya dan mengunduh berbagai macam permainan daring untuk dimainkan. Saya sendiri adalah salah satu orang yang telah terkena candu permainan daring. Saya biasanya memainkannya bersama teman-teman agar lebih seru. Saya sangat menyukai permainan pertempuran medan perang.

Saya menyukai permainan daring berjenis pertempuran karena menurut saya permainan tersebut dapat melatih otak saya dalam meracik strategi dan melatih saya dalam berkomunikasi secara refleks. Didalam permainan tersebut, kita akan bermain dalam tim. Pemenangnya adalah mereka yang mampu bertahan hidup hingga tidak ada lagi musuh yang tersisa. Semua tim akan diterjunkan ke sebuah pulau dimana di pulau tersebut tersebar berbagai macam perlengkapan pertempuran darat. Tugas masing-masing dari pemain adalah mengumpulkan peralatan tempur dan menghabisi musuh.

Saat ini, terdapat banyak sekali permainan daring yang tersedia untuk komputer dan gawai, diantaranya: free fire battlegrounds, player unknown's battlegrounds atau yang juga dikenal dengan PUBG, dan rules of survival. Ketiganya adalah permainan daring favorit saya, namun diantara ketiga permainan daring tersebut, saya lebih menyukai free fire battlegrounds karena permainan daring tersebut terkesan lebih realistis dan lebih ringan ukurannya sehingga tidak memakan banyak memori.

Meskipun saya sangat menyukai permainan daring, namun saya selalu berusaha untuk menahan diri untuk memainkannya. Saya hanya memainkannya diwaktu-waktu tertentu saja seperti pada saat menunggu atau pada saat liburan. Saya biasanya memainkan permainan daring berjenis pertempuran medan perang selama kurang lebih 1 jam atau lebih dalam sehari.


Useful Phrases in Kecanduan Permainan Daring

INDONESIAN ENGLISH
permainan daring online game
gawai smart-phone
mengunduh download
pertempuran medan perang battlegrounds
berkomunikasi secara refleks communicating reflexively
bermain dalam tim playing in a team
perlengkapan pertempuran darat ground combat equipment

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia

We are now entering August - the most special month for Indonesia and all Indonesians. This is our independence month and we all celebrate it throughout the month. Indonesian flag waves everywhere in Indonesia. On this page, I provide a very short passage for you who want to learn bahasa Indonesia. In English, the title of this passage means "Indonesian Independence Day Celebration". Enjoy the passage!

Read more